Selasa, 01 Desember 2015

Cerpen Pak Yai: Milih Jodo Versi 2

Pagi itu hari Jumat. Tepat jam 8, Pak Yai mampir ke rumahnya Iman, Konsultan Keuangan yang rumahnya belakang ITS, Surabaya; setelah menyelesaikan beberapa urusan di Kejawan Putih Tambak. Belum sampai masuk uluk salam, Pak Yai disapa Edi, teman Iman yang kebetulan juga lewat. 

Edi adalah lelaki ganteng, perlente, necis, dan punya bisnis pakan ikan dan udang, yang memasok ke pesisir Utara wilayah Besuki sampai Banyuwangi.

"Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuhu"

"Waalaikumus salaam Warohmatulloohi Wabarokaatuhu. Lho Edi, teko endi koen"

"Dari (sekolah) Lukman Hakim, pak Yai. Lha pak Yai ini dari mana, kok jauh-jauh dari Sidoarjo, pagi-pagi sudah sampek sini?"

"Oh.. tadi ada urusan di Kejawan, sebelum jam 3an. Terus subuhan, ngobrol sampek jam setengah delapan. Lha timbang pulang ke Darjo, sekalian aja mampir ke sini."

"Emang Cak Imannya ada?"

"Gak eroh, lha wong belum ndodok lawange. Kamu kok sendirian ae, kemana istri dan anakmu?"

"Walah pak Yai, saya ini masih GOLKAR (Golongan Kasep Rabi)."

 

He he ehe hehehhe... Hahahha... Haha...hahahhaaa. (tertawa bareng)

 

"Umurmu piro, kok masih nggolkar aja?"

"37 pak Yai. Lha pripun, gak cocok terus. Gak masuk kriteria. Sekalian saya nitip ke Pak Yai, barangkali ada santri atau siapa saja yang bersedia ndampingi saya."

"Jadi 37 tahun iku mek (hanya) digawe nguyuh (pipis/ kencing) tok? Dholim iku jenenge Ed..."

 

He he ehe hehehhe... Hahahha... Haha...hahahhaaa. (tertawa bareng)

 

"Pak Yai enten-enten mawon (ada-ada aja)"

"Emang kriteriamu kayak apa, Ed?"

"Harus cantik, sholihah, hapal Quran, pinter momong anak, pinter masak, taat suami, terus kaya. Ditambah lagi, kalo bisa sarjana"

"Ed, andai saja aku nemui wong wedok seperti yang kamu pinginkan, jelas iku tak pek dewe (tak ambil sendiri). Tak jadikan Bu Nyai kedua. Gak usah tak kasihkan kamu."

"Kok gitu, pak Yai?"

"Lha gimana, lha wong yang kamu mau itu terlalu ideal."

"Lah, namanya saja juga permintaan dan pengharapan pak Yai... Kan nggih wajar kalo ideal"

"Iya... Bener... Bener.... bener... Maksudku kamu benere dewe. Jadi orang itu yang masuk akal. Jangan sembarangan. Kamu minta dan nuntut jodo yang macem-macem, emang kamu sendiri kayak apa? Sholatmu jangkep gak? Ibadahmu, baca Quranmu, dsb. Jodo itu sekufu. Sederajat. Podo tingkat keimanane. Minimal mirip. Gak mungkin Gusti Alloh ngasih jodo ke orang, kalo terlalu berat sebelah. Njomplang. Kalolah itu sampek terjadi, paling-paling usia pernikahannya gak lama."

"Oooo..."

"Jadi, kamu kalo pingin jodo yang kayak gitu, benahi dulu ibadahmu. Ruhiahmu. Minimal sholat wajib jamaah 5 waktu. Bukannya adzan malah dienak-enakno rokokan nang warunge Sokran."

"Anu... Pak Yai.... Itu...."

"Anune sopo? Sholat sunahe diakehi (diperbanyak). Moco Quran bendino (setiap hari). Gitu, ojok dibiarkan ngglundung. Lagian ya Ed, kalo lah kamu berhasil ketemu cewek yang kayak gitu, dia itu lho belum tentu mau sama kamu."

"Waaduh... kenak cemes (smash) aku rek."

"Sekarang kamu mau kemana?"

"Mau ke (Jurusan) Kelautan ITS pak Yai, ngurus ligalisir. Ada rekanan yang butuh ijasah saya. Maklum, biarpun dulu waktu kuliah struktur pantai, teknik bangunan lepas pantai, e.. Alah, ternyata nyemplungnya di bisnis pakane iwak"

"Gak po po Ed, sing penting halal. Dan lebih penting maneh, kriteria jodomu iku harus diturunkan. Cik gak tambah suwe GOLKARMU iku"

"Nggih pak Yai"


--
Wassalam,

Nanto
PinBB: 73cebce1
Simpati: 081.230.618.116
XL: 081.935.0000.50
IM3: 0857.067.067.87

Jumat, 07 Agustus 2015

Rencana Haji

Dalam sebuah acara, Pak Yai bertemu dengan kawan lamanya, Mardiono, yang baru pensiun tahun lalu dari Pegadaian. Dari ceritanya, pesangon dari instansi tersebut cukup banyak. Saat itu Mardiono ditemani anak mBarepnya, Dondi.
Dondi, wirausahawan sukses dari kota Lamongan, yang mempunyai aset lebih dari 7 milyar.
Bertiga mereka bercengkrama. Cerita sekolah, keluarga, hingga merembet ke masalah Haji.
Menurut Mardiono dan Dondi, pemerintah telah melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa ditolerir, terkait dengan penyelenggaraan haji. Hingga banyak pihak jadi terlunta-lunta.
"Lha terus kamu berangkatnya kapan, Yon?"
Sambil menghela nafas panjang, Mardiono menjawab,

Sabtu, 18 Juli 2015

Jomblo Tidak Siap

Anas adalah pemuda pegawe kabupaten Sidoarjo, rumahnya pinggir sawah. Bapaknya blantik sapi, ibunya pedagang kecambah pasar Krembung. Dia adalah playboy desa yang suka gonta-ganti pasangan. Wajahnya tidak begitu ngganteng, tapi ngeyelnya, daya juangnya yang tinggi terhadap perempuan, yang menjadikan dia idola para gadis dan janda.
Dalam suatu kesempatan, setelah sholat idul fitri, dia berkeliling desa sambil memperkenalkan gendakan terbarunya.
Pagi itu dia berkunjung ke rumah pak Yai, yang rumahnya di pinggir sawah. Pak Yai tidak ada. Dicari. Ternyata beliau di belakang pesantren, di DPR (dibawah pohon rindang) bangku pinggir sawah. Sambil ngobrol dengan tamu-tamunya. Guyon bareng. Tempat itu memang menjadi tempat favorit pak Yai, menemui tamunya.

Rabu, 08 Juli 2015

Masuk Neraka

Pagi itu suasanya mbediding (dingin menyengat). Sudah 2 bulan ini hampir tiap hari seperti itu. Walaupun matahari sudah agak tinggi. Biasanya, situasi seperti ini bertepatan dengan bunga dari buah mangga, mengalami penyerbukan.
Penggemar sholat Dhuha di langgar Pak Yai yang biasanya bergas (bersemangat), nampak nyekukruk (meringkuk). Seperti burung emprit kehujanan. Kemarau yang dingin.
Seusai melaksanakan sholat Dhuha, pak Yai bergegas ke tepi sawah. Ada pesta miras, semalam.
"Gel, tangi. Wis awan..."
"Oh pak Yai... ada apa pak Yai?"
Sambil menggeliat. Wajah bogel terpapar matahari pagi. Gelagapan.

Jumat, 26 Juni 2015

Lalu Lintas

Sore itu pak Yai jalan-jalan dengan Soni, dengan menggunakan sepeda
montor. Tujuannya seputar Alun-alun, GOR, hingga pasar krempyeng
Gading Fajar. Ketika sampai di daerah Taman Pinang, tiba-tiba Soni
mengarahkan motornya balik arah, melawan arus lalu lintas.
"Lho Son, te lapo (mau ngapain)?"
"Ke ATM pak Yai. Tadi kelupaan, pas lewat"
"Kok pakek jalur ini, gak lewat di seberang sana aja, yang searus"
"Wah, kejauhan pak Yai. Lagian gak ada Pulisi dan gak ada aturannya di Quran"

Kamis, 25 Juni 2015

Meso

Sehabis sholat dzuhur, pak Yai berkeliling desa. Ini sudah menjadi
kebiasaan beliau, 5 tahun belakangan ini. Mengambil jalan pulang, yang
tidak sama dengan jalan berangkat. Kata kanjeng nabi, yang demikian
itu nyunah. Rute yang beliau lalui cukup jauh. Karena sebenarnya
Musholla yang beliau gunakan sholat jamaah adalah di belakang komplek
pesantren. Muternya sampek 2 km. Tapi apa mau dikata, kalo sudah
bagian dari kesenangan, jarak menjadi bukan halangan. Tiba-tiba...

Sabtu, 23 Mei 2015

Tidak Pipis dan Tidak Ngendog

Sore adalah waktu favorit pak Yai untuk bercengkrama dengan bu Nyai. Kadang duduk di dingklik, di bawah pohon poh (mangga) golek, belakang pesantren yang menghadap sawah, kadang di teras rumah, tapi tak jarang ngobrol sambil jalan-jalan keliling sawah. Memang lingkungan mewah, terasa manjur untuk mengurangi kepenatan, setelah seharian beraktivitas. Tentu mewah di sini, yang dimaksud adalah mepet sawah. Bukan yang lain.

Kamis, 21 Mei 2015

Timbangan

Pagi itu pak Yai bertemu bakul rambutan langganannya di tuwang. Tuwang, adalah bahasa lokal (Sidoarjo) yang merujuk pada jalanan yang lokasinya yang jauh dari perkampungn. Sugeng, namanya. Setelah ngobrol kesana kemari, sampailah pada topik yang sensitif.
"Menurut saya pak Yai, jalanan rusak kayak gini, apalagi belum genap 2 tahun, kalo saya yang jadi Bupati Sidoarjo, bisa tak bedil, koruptornya."
"Tugas bupati itu bukan mbedil koruptor, Geng. Emang kenapa dengan koruptor?"
"Njengkelkan pak Yai. Ya kayak gini ini. Ini kan fasilitas umum. Harusnya pemerintah tahu, kalo fasilitas umum jangan dikorupsi"

Selasa, 19 Mei 2015

Makanan Sisa

Malam itu adalah malam resepsi pernikahan salah satu santri Pak Yai, yang tinggal di Ngimbang, Lamongan. Acara begitu meriah. Setelah melewati beberapa acara inti, pembawa acara kemudian mempersilahkan hadirin untuk makan malam. Prasmanan. Ada banyak menu disana. Pak Yai beserta rombongan turut serta menikmati hidangan.

Sabtu, 16 Mei 2015

Software Bajakan

Di sebuah kantor, ada seorg pemuda bersilaturrahim kpd salah seorg ustad muda yg moderat. Guyon2, hingga pembahasan menyentuh pada masalah teknologi.
"Ustad, kita ini sebenarnya boleh gak pakek software bajakan?"
"Boleh aja..."
"Kok boleh, Us?"
"Software itu lho rata2 bikinan Amerika. Mereka sdh kaya. Kl kita pakek sedikit saja, gak ngefek dengan kekayaan mereka. Lagian, sodara2 kita yg di Palestina, dihajar, salah satunya dananya jg dari situ"

Apa Arti Sebuah Nama

Suatu siang yg terik, dua org ABG terlibat dalam debat kusir. Tentang arti sebuah nama. Yang pikirannya kebarat2an berpendapat, bahwa nama itu gak ada artinya. Hanya sebuah panggilan, tanpa perlu ada makna. Sementara yg satunya, merasa nama itu harus bagus, karena dalam falsafah Jawa dan Islam, "Asma kinarya Japa". Nama adalah doa. Diskusi memuncak, hingga ABG kedua bilang,

Jumat, 15 Mei 2015

​​Baju Pergi

Sore itu pak Yai sedang membaca koran di teras rumah. Ditemani dengan kopi dan gorengan. Tanpa rokok. Sudah lama pak Yai meninggalkan kebiasaan buruk itu. Selain membahayakan kesehatan, juga merugikan lingkungan/ keluarga secara langsung. Yang merokok enak (wajar kalau kena penyakit), sementara lingkungan sekitar juga dapat penyakit yang lebih berbahaya. Ini kan shodaqoh penyakit. Dalam pandangan pak Yai, semua yang merugikan diri sendiri apalagi lingkungan, sudah masuk kategori yang dilarang.

Selasa, 12 Mei 2015

Brai

“Dari mana Wan?”
“Dari rumah, pak Yai. Ini td habis mandi, langsung ke sini”
Sambil berjalan ke tempat kondangan, tiba-tiba tercium bau gak sedap. Tahi kucing. Mak Nyooosshhh…
“Yek juh!!! Kucinge sopooo iki, ngising sembarangan”
“Menurutmu, bau itu ngganggu gak?”
“Ya jelas nganggu lah pak Yai”
“Siapa aja yang terganggu?”
“Ya siapa aja, kalo baunya gak enak, pasti ngganggu.”
“Kalo bau badan atau bau kelek?”
“Nuwun sewu, apa pak Yai niat nyinggung saya?”
“Wan, sebenarnya bau tahi kucing, bau kelek, bau badan, bau sampah, dan bau-bau yang lainnya, selama gak disukai, sama saja: NGGANGGU”

Jumat, 08 Mei 2015

Sholat Jamaah

Siang itu demikian terik. Tidak ada awan, langit bersih sehingga matahari dengan mudah memanggang siapapun yg tidak berteduh darinya. Kambing dan sapi nampak bermalas2an dibawah pohon trembesi. Tidak jauh dari tempat itu, ada sebuah langgar dekat sawah. Langgarnya pak Yai. Sengaja beliau memisahkan langgar tersebut dari komplek pesantren yg beliau pimpin, agar masyarakat bisa dengan mudah memanfaatkan. Biasanya 30 menit sebelum adzan, beliau sempatkan blakrakan ke luar pesantren untuk sekadar ngajak orang-orang yg belum pingin berjamaah. Pulangnya pun, beliau milih jalan muter, jauh.

Kamis, 30 April 2015

Pipis

Pagi dini hari itu, menjelang shubuh, Pak Yai beserta rombongan wali wolu singgah di salah satu masjid kecil di kawasan Pekalongan. Perjalanan tersebut memang mengalami keterlambatan karena ada sesuatu hal. Harusnya, bis sudah masuk kawasan Cirebon. Tapi sudahlah, yang penting selamet. Tidak kurang suatu apapun. Sepanjang perjalanan Pak Yai wanti2, agar selalu menata hati saat berziarah ke makam, khususnya makam wali. Karena kalau salah niat sedikit saja, bisa masuk ke dalam ranah kesyirikan. Bis berhenti di pelataran masjid, seluruh rombongan turun.
Masjid ini didesain untuk menampung jamaah yang dalam perjalanan. Ini bisa dilihat dari banyaknya toilet yang disediakan dan ukuran parkir yang luas, bisa menampung beberapa bis sekaligus.

Rabu, 29 April 2015

Minta Cerai

“Pak Yai, istri saya minta cerai”
“Sik to, iki onok opo, kok tiba2 minta cerai?”
“Istri saya gak tahan dengan saya.”
“Ngomong sing jelas, jangan subyektif. Apa anakmu gak kamu kasih makan?”
“Endak, pak Yai”
“Opo istrimu minta macem2 gak pernah kamu turuti?”
“Kayaknya jg enggak. Lha wong saya itu sangat sayang. Apa2 saya belikan. Saya turuti”
“Apa dia pernah kamu larang ngibadah?”
“Jangan sampek pak Yai! Naudzubillah. Urusan ibadah saya bebaskan sebebas2nya. Bahkan kl pingin umroh setiap bulan, saya sanggup.”
“Percoyo… percoyo… Kolonel dilawan. Apa ada masalah di ranjang?”

Selasa, 28 April 2015

Sholat dan Kathok

Pagi itu, pak Yai lg bercengrama dengan bu Nyai di serambi depan rumah. Guyon, nampak mesra dan akrab. Para santri nampak sesekali lewat dan mengucapkan salam. Sesaat kemudian ada mobil berhenti, parkir di depan rumah.
Setelah mengucapkan salam, tamu tersebut dipersilahkan duduk. Dengan santun, bu Nyai pamitan masuk rumah. Setelah ngobrol akrab ke sana sini, akhirnya sampailah pada inti permasalahan.
“Pak Yai, sebenarnya saya ini pingin berangkat Umroh. Cuman sholat saya bolong2. Gmn menurut pak Yai?”