Kamis, 30 April 2015

Pipis

Pagi dini hari itu, menjelang shubuh, Pak Yai beserta rombongan wali wolu singgah di salah satu masjid kecil di kawasan Pekalongan. Perjalanan tersebut memang mengalami keterlambatan karena ada sesuatu hal. Harusnya, bis sudah masuk kawasan Cirebon. Tapi sudahlah, yang penting selamet. Tidak kurang suatu apapun. Sepanjang perjalanan Pak Yai wanti2, agar selalu menata hati saat berziarah ke makam, khususnya makam wali. Karena kalau salah niat sedikit saja, bisa masuk ke dalam ranah kesyirikan. Bis berhenti di pelataran masjid, seluruh rombongan turun.
Masjid ini didesain untuk menampung jamaah yang dalam perjalanan. Ini bisa dilihat dari banyaknya toilet yang disediakan dan ukuran parkir yang luas, bisa menampung beberapa bis sekaligus.

Rabu, 29 April 2015

Minta Cerai

“Pak Yai, istri saya minta cerai”
“Sik to, iki onok opo, kok tiba2 minta cerai?”
“Istri saya gak tahan dengan saya.”
“Ngomong sing jelas, jangan subyektif. Apa anakmu gak kamu kasih makan?”
“Endak, pak Yai”
“Opo istrimu minta macem2 gak pernah kamu turuti?”
“Kayaknya jg enggak. Lha wong saya itu sangat sayang. Apa2 saya belikan. Saya turuti”
“Apa dia pernah kamu larang ngibadah?”
“Jangan sampek pak Yai! Naudzubillah. Urusan ibadah saya bebaskan sebebas2nya. Bahkan kl pingin umroh setiap bulan, saya sanggup.”
“Percoyo… percoyo… Kolonel dilawan. Apa ada masalah di ranjang?”

Selasa, 28 April 2015

Sholat dan Kathok

Pagi itu, pak Yai lg bercengrama dengan bu Nyai di serambi depan rumah. Guyon, nampak mesra dan akrab. Para santri nampak sesekali lewat dan mengucapkan salam. Sesaat kemudian ada mobil berhenti, parkir di depan rumah.
Setelah mengucapkan salam, tamu tersebut dipersilahkan duduk. Dengan santun, bu Nyai pamitan masuk rumah. Setelah ngobrol akrab ke sana sini, akhirnya sampailah pada inti permasalahan.
“Pak Yai, sebenarnya saya ini pingin berangkat Umroh. Cuman sholat saya bolong2. Gmn menurut pak Yai?”