Selasa, 02 Juni 2009

PDF Berkekuatan Tinggi


Pengembangan file berbasis PDF (Portable Document Files) karya Adobe, seakan telah membahana ke seluruh lini pekerjaan. Bayangkan saja, ketika kita berbicara crossplatform (Mac - windows - Linux - Solaris - dsb), PDF telah menyatukan itu semua. Seakan-akan sudah tidak ada batas lagi, mana Linux, mana Windows dsb. 
Belum lagi kalau kita berbicara mengenai program/ software. Maka kita akan terkotak-kotak pada software atau program kegemaran kita. Ada pengguna MS Word versi terakhir (saat ini versi 2007, kalo gak salah), akan kesulitan dibuka oleh versi sebelumnya. Demikian juga kalo sudah berbicara grafis, memberikan preview desain ke customer yang jauh dari jangkauan kita, akan berlipat-lipat tingkat kesulitannya.
Dulu, saat pdf masih belum sepopuler hari ini, konfirmasi desain harus menyertakan print ke client. Sekalipun yang bersangkutan berada nun jauh di seberang sana. Atau kalau pingin lebih ces pleng (konyolnya), desain softcopynya dikirimkan. Kalau sudah demikian, pasti akan sangat runyam. Mungkin desain kita itu akan diberikan ke produsen lain dengan dalih itu desain mereka (kita dibohongi mentah-mentah). Atau bila yang bersangkutan jujur, kesulitan kedua: mereka harus punya program yang memungkinkan file desain itu bisa terbuka sempurna, plus huruf-huruf yang menyertainya. 
Mengapa dulu bisa sampai terjadi cerita konyol seperti itu, hingga desain softcopynya ikut dikirimkan? Ini tidak lain karena si Client, punya sangat banyak kemauan. Sementara dipihak kami, mekanisme pembatasan revisi belum terfikirkan. Jadinya ya gitu itu. Akhirnya setelah bertahun-tahun berlalu, PDF telah memberikan jawaban yang sangat mengagumkan. Mengapa? Karena kita tidak pernah lagi dipusingkan masalah:

1. Platform alias Sistem Operasi
Dulu, kami pernah punya pengalaman, saat bekerja dengan menggunakan AdobePageMaker ver. 6.5 Windows. Dan ketika masuk ke wilayah pracetak, masalah terjadi. Perusahaan pembuat film hanya punya komputer Mac. Alhasil, file tersebut dibuka di PageMaker 6.5 ver Mac. Awalnya gak masalah, tapi setelah diteliti lebih jauh, ternyata banyak sekali link dengan nama file yang panjang, dipotong menjadi 8 karakter saja. Sehingga gambar-gambar yang tampil, jadi sangat kacau. Belum lagi beberapa karakter yang "loncat" gara-gara kompatibilitas yang tidak terlalu sempurna antara versi Mac dan Windows.
Cerita ini ternyata sangat banyak yang ngalami di jaman kami dulu (sekitar pertengahan 90an)

2. Program atau Software
Pengalaman ini hampir sama dengan cerita di atas, yaitu saat masuk proses pracetak (film). Saat kami setor file berbentuk AdobePageMaker, beberapa perusahaan langganan kami menolak, hanya karena operator dan programnya tidak ada. Bahkan dengan sedikit aneh, mereka bertanya balik ke kami, "kok gak pakek CorelDraw atau Freehand aja?"
Saya jawab, "Ya Memang bisa sih pakek kedua program itu, tapi kalau buku saya terdiri dari 300 halaman dengan sangat banyak gambar, apa ya tahan? (Waktu itu spek komputer yang tertinggi masih Pentium III).

3. Pusing masalah Huruf
Pernah suatu ketika, semua kerjaan telah dikirim. Beberapa saat kemudian, kami ditelp oleh perusahaan pracetak, "Mas, ada missing fontnya. Tadi lupa gak convert ya?"
Waduh, pekerjaan "kesusu" gini, masih missing font lagi... Terpaksa balik lagi ke kantor. Dari pengalaman ini, saya akhirnya wanti-wanti ke semua, jangan lupa font.
Hingga hari ini, saya masih belum menemukan mekanisme tercepat, menemukan font apa saja yang digunakan untuk program Adobe PageMaker. Tapi kebimbangan saya ini akhirnya terjawab, dengan munculnya versi penerus PageMaker yaitu Adobe InDesign, yang menyertakan semua font yang digunakan.

4. Program non Grafispun Jadi
Saat mendapat pekerjaan membuat buku (lagi), masalah muncul. Akankah file yang disetor client yang dalam bentuk MSWord, sudah dalam keadaan sangat sempurna (tinggal mendandani sedikit), saya pindahkan ke Adobe PageMaker atau Adobe InDesign? Kalau pilihan kedua yang saya jalani, pasti saya akan bekerja sangat keras, mulai membuat layout, membuat "index", catatan kaki, daftar isi, dsb. Walaupun itu semua bisa dijalankan secara otomatis, tapi kan harus "metani" (mencari-cari: njlimet) dulu. Yang pusing kan mencari semua kata atau kalimat yang mesti dimasukkan ke halaman index. Akhirnya terfikir, bagaimana kalau menggunakan program ini saja tapi di-PDF-kan. Bukankah sekarang PDF itu sakti Mondroguno? Sudah sangat support untuk keperluan percetakan. Akhirnya dengan mensetting PDF ke "Prepress", semua bentuk kesulitan itu terjawab sudah. Pihak perusahaan film ok, ketika dicetak dan hasilnya juga OK. Buku yang saya maksud ini tidak lain adalah: "GURU GOBLOK KETEMU MURID GOBLOK" karya best seller dari Cak Iman Supriyono, yang saat ini sudah memasuki cetakan ke-4 (kurang lebih sudah 16.000-an eksemplar).

Dari segelintir pengalaman ini, rasanya cukup sudah bagi saya untuk mengakui, bahwa PDF itu sudah bisa mempengaruhi semua lini pekerjaan. Bagaimana dengan sampeyan?

Jumat, 15 Mei 2009

Desain untuk Percetakan

Banyak orang bisa mendesain, mulai dengan Program berbasis Windows, Mac, Linux, maupun yang lainnya. Cuman, dari sekian banyak orang itu, sebagian diantaranya yang kurang memahami logika pracetak atau bahkan mesin cetak. Mereka mendesain hanya berdasarkan suka dan tidak suka. Bisa dan tidak bisa. Cuman kalau ini dituruti, saya yakin pihak pracetak akan pusing tujuh keliling "merasakan" kemauan yang "jauh" dari efek produksi ini.
Dalam hal ini, saya pernah punya pengalaman, dimana anak buah saya (desainer) kebetulan mantan pegawai percetakan besar. Dia bercerita kalau di tempatnya bekerja dulu, hasil output yang seperti itu (dalam bahasa saya masih mentah) sudah cukup untuk diberikan ke bagian produksi. Waktu itu saya katakan, bahwa perusahaan saya ini beda sekali dengan perusahaan dia dulu. Kalau di perusahaan itu,  sudah punya mesin film (mesin pembuat film), disamping itu ada bagian khusus yang akan menangani masalah pracetak  ini, demikian seterusnya. Tapi disini? Tidak ada mesin yang dia maksud. Alhasil, untuk keperluan tersebut (pem-film-an, yaitu membuat film cetak untuk kemudian ditransfer ke plat cetak), pihak saya harus bekerja keras  menyiapkan sendiri tugas-tugas pracetak tersebut, hingga betul-betul matang dan siap film.
Mengapa ini saya lakukan? Sebab pihak perusahaan pemfilman tidak mau mengganti, merubah, melayout, apapun atas desain yang telah saya setorkan. Jadi, apa yang masuk ke tempat mereka, harus betul-betul beres 100%. Bahkan, untuk merubah mode warna saja, mereka kadangkala tidak mau (biasanya konfirmasi ke saya). Kalau saja pekerjaan ini adalah pekerjaan pembuatan brosur, mungkin tidak masalah. Karena halamannya sangat sendikit. Tapi kalau buku? Alamaak...
Apalagi kalau sudah melibatkan buku yang halamannya diatas 100 halaman. Maka penanganannya jadi jauh lebih pusing. 
Untuk kasus buku, untung saja di Surabaya ada perusahaan pemfilman yang bersedia melayoutkan (otomatis), walaupun kita menyerahkan desain kita ke sana dalam bentuk Adobe PageMaker atau CorelDRAW! sekalipun. Jadi untuk buku, tidak masalah. Tinggal berani bayar agak mahal (untuk biaya film) atau tidak, itu saja.

Kembali ke masalah desain, berikut ada beberapa pengalaman yang sering "ditinggal" oleh desainer, terutama desainer pemula.

1. Lebihan (kalo gak salah dalam bahasa grafika adalah sisiran).
Desainer pemula, sering sekali membuat desain "pres gambar". Artinya untuk pesanan media dengan ukuran 20x30 cm, mereka mendesain dengan ukuran yang sama. Akibatnya setelah dicetak kemudian dipotong, ukuran medianya jadi tinggal 19,6 x 29,6 cm.
Bagaimana seharusnya? Buatlah gambar atau desain dengan diberi kelebihan ukuran 2 mm keliling. Artinya sisi kiri dilebihi 2 mm, kanan 2 mm, atas 2 mm, dan bawah 2 mm. Contoh: Bila kita membuat brosur butuh ukuran jadi A3 atau 29,7 x 42 cm, maka ukuran desain paling tidak 30,1 x 42,4 cm. Begitu seterusnya.

2. Mode Gambar/ warna
Dari beberapa pengalaman saya, mode gambar yang paling aman digunakan dalam Program apapun adalah CMYK. Mengapa saya katakan mode paling aman? Sebab Program-Program grafis tertentu bisa memecah (separasi) warna secara otomatis.
Contohnya adalah CorelDRAW!. Program ini walaupun "dimasuki" foto berformat RGB pun secara otomatis bisa langsung diseparasi. Sementara Program yang lainnya seperti Adobe Illustrator, Pagemaker, Quark Express, Macromedia Freehand, InkScape-pun belum bisa melakukan hal yang sama. Tidak tahu lagi kalau yang versi terbaru ini. Khusus untuk CorelDraw, pun walau bisa melakukan separasi secara otomatis, tetap sangat disarankan warna maupun foto yang dimasukkan dalam format CMYK. Paling tidak, pengkonversian mode dilakukan di dalam Program ini melalui perintah "Bitmap" - "Convert to Bitmap".
Foto yang dibiarkan berbasis RGB hingga proses film, biasanya menghasilkan warna yang sedikit beda dari yang dalam format CMYK, setelah dicetak.

3. Tanda Kres Potong maupun tekuk.
Tanda ini diperlukan, biasanya untuk memberi kode pada tukang potong, bahwa di sisi inilah pemotongan harus dilakukan. Demikian juga dengan kres tekuk, juga sama. Yaitu memberikan kode pada "tukang pisau" agar mengeset posisi pisau tumpul (rit) tepat pada tempatnya.

4. Resolusi Gambar
Resolusi yang disarankan adalah minimal 300 dpi. Sedangkan dibawah resolusi itu, biasanya gambar/ foto tersebut kelihatan agak kabur alias tidak tajam. Ada pengalaman yang cukup pahit. Pelanggan saya memberikan gambar dalam resolusi 72 dpi. Sepertinya dia dapat gambar tersebut dari internet. Waktu itu saya sebenarnya sudah tahu, tapi tidak mengkonfirmasi balik. Hanya saya perbaiki sendiri di Photoshop. Ditajamkan (sharpen) dan dinaikkan resolusinya. Alhasil, begitu selesai dicetak, hasilnya kabur. Dan saya dikomplain dengan sukses. :-(

5. Jarak antara Huruf dengan tepi
Maksudnya adalah posisi huruf-huruf dalam paragraf dengan tepian media jangan terlalu dekat. Disini saya sangat sering menemuinya, terutama pada rekan-rekan yang lagi PKL atau PSG. Biasanya mereka baru menyesal, setelah dicetak. Mengapa harus demikian? Apakah ada pakemnya? Untuk pakem, terus terang saya tidak tahu, karena background pendidikan saya adalah Teknik Kelautan ITS Surabaya.
Cuman disini saya hanya mengandalkan pengalaman dan pendapat beberapa rekan. Yang setelah diintisarikan, jadinya ya seperti ini. Tulisan atau paragraf jangan terlalu mepet dengan tepian media. Itu saja. Kecuali dari sejak awal, diniati desain kontemporer, yang betul-betul "nabrak" apapun.

6. Konversi Huruf
"Convert to Curve". Perintah dalam program CorelDraw inilah yang sering saya gunakan dalam mendesain sesi-sesi akhir, sebelum difilmkan. Keberadaan huruf di tempat pemfilman, tidak selamanya sama dengan di tempat kita. Ketika "font not found", biasanya yang terjadi huruf akan diganti sekenanya, sesuai dengan settingan di program grafis tersebut. Hasilnya, desain kita jadi hancur terutama pada bagian tata letak tulisannya. Dalam bahasa Jawa disebut: Ting Pecothot. Untuk mencegah terjadinya masalah ini, sangat disarankan untuk melakukan konversi huruf atau font.

7. Warna Hasil tidak selamanya sama dengan Monitor.
Saat bekerja dengan program seperti Freehand, Illustrator, PageMaker, InDesign, warna gambar yang berbasis CMYK selalu tampak "ngejreng" alias norak. Warna-warna jadi tajam. Kalau ini yang terjadi, tidak usah khawatir. Sebab program-program tadi memang membaca mode warna CMYKnya seperti itu. Untuk mengecek atau memastikan warna aslinya,  silahkan buka program barbasis bitmap seperti Adobe Photoshop, CorelPhotopaint, Macromedia Fireworks, Gimp, atau yang lainnya. Sedangkan untuk warna-warna lain, terpaksa harus dicocokkan dengan tabel warna.
Yang perlu diingat, warna monitor tidak selalu sama dengan warna hasil cetak, karena pancaran cahaya monitor sangat dipengaruhi oleh setting cahaya dan komponen yang ada didalamnya. Contoh: Monitor Samsung 17" warnanya lebih lembut dibandingkan dengan Monitor merk Treq 17". Nanti kalau dibuka di Komputer Macintosh atau Linux akan lebih beda lagi. Begitu seterusnya.

8. Print ukuran 1:1
Desain apapun, sangat disarankan walaupun sekali, ngeprint ukuran yang sebenarnya. Tidak peduli itu pekerjaan brosur, poster, buku, ataupun yang lainnya. Tidak harus semua, tapi cukup ngeprint secara acak bagian tertentu saja. Terutama bagian-bagian yang mengandung komponen yang berukuran paling kecil dan paling besar.
Paling kecil, maksudnya apakah huruf atau gambar itu masih bisa dibaca atau dilihat dalam jarak pandang normal atau tidak. Sedangkan paling besar, maksudnya adalah apakah perbandingan gambar atau huruf tersebut masih masuk akal dengan sekitarnya atau tidak. Masih layak tampil dengan ukuran tersebut atau tidak. Kalau tidak, segera ubah.

9. Cek n Ricek.
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah kesalahan penulisan. Entah huruf yang loncat, atau salah ketik. Kalau ini yang terjadi, tinggal terserah pelanggannya. Mau terima atau tidak. Kalau tidak terima, ya terpaksa ngganti. Sangat disarankan, pengecekan tidak dilakukan oleh 1 orang saja. Makin banyak orang makin bagus.

Mudah-mudahan bermanfaat.