Sabtu, 23 Mei 2015

Tidak Pipis dan Tidak Ngendog

Sore adalah waktu favorit pak Yai untuk bercengkrama dengan bu Nyai. Kadang duduk di dingklik, di bawah pohon poh (mangga) golek, belakang pesantren yang menghadap sawah, kadang di teras rumah, tapi tak jarang ngobrol sambil jalan-jalan keliling sawah. Memang lingkungan mewah, terasa manjur untuk mengurangi kepenatan, setelah seharian beraktivitas. Tentu mewah di sini, yang dimaksud adalah mepet sawah. Bukan yang lain.

Prinsip yang dipegang pak Yai adalah, mesra atau akrab dengan istri adalah bagian dari kewajiban yang harus dibangun suami. Sebagaimana yang diajarkan oleh kanjeng nabi.
Sore ini angin sepoi-sepoi. Untuk yang kesekian kali, Pak Yai memilih dingklik belakang pesantren, untuk bercengkrama. Hawanya seger, ditambah suara burung derkuku yang sesekali mampir di atas pohon poh.
"Wid, njenengan tahu nggak, tadi siang kangmas ketemu Widodo, teman Aliyah di Prambon. Wah... dia jadi pengusaha bebek yang sukses di Mojosari. Syukurlah, lha wong dia itu lho, dulunya preman WC..."
"Kok disebut preman, mas?"
"Iya lah, lha wong tukang jaga WC di pasar. Kereng dia kalo njaga. Orang yang pipis atau ngendog, gak boleh ngutang. Kalo nekat ngutang, sorenya bakal di tagih di bidaknya. Kalo nggak mbayar, suruh ngambil lagi. Mbentak2 pisan. Wis... wis..."
"Wolak waliknya jaman nggih mas..."
Pak Yai mempunyai kebiasaan memanggil istrinya dengan panggilan mesra, Wid. Dari kata widodari, atau bidadari.
Tiba-tiba Joni melintas...
"Oiii... nang endi Jon? Mampir kene..."
"Eh, pak Yai, bu Nyai. Ini, saya mau ke toko pertanian. Ngijolaken arit niki lho."
"Emang kenapa aritmu Jon?"
"Walah pak Yai, belum apa-apa dipakek sudah sempal gini."
"Kenak watu itu... yo mesti ae sempal"
"Kangmas, kulo mantuk rumiyin nggih..."
"Oh iyo, sekalian bikinin teh panas 2. Buat tamu kita ini..."
"Nggih..."
"Walah kok repot-repot pak Yai. Sebentar saja kok."
"Gak po po. Kamu mau ke tokonya Parlan to?"
"Inggih, bener."
"Orangnya sudah pulang tadi. Katanya mau ngantarkan istrinya ke bidan. Mau melahirkan.
Kamu katanya udah jarang nulis lagi ya?"
"Inggih pak Yai. Nulis itu kan repot. Mikir. Kadangkala ngriset macem-macem. Gak bisa disambi-sambi. Lha kok, dikirim, ditolak sama redaksinya. Siapa yang gak nggondok?"
"Ada yang kurang pas, kali..."
"Sudah pak Yai. Saya itu sudah melakukan riset ini itu. Buku opo wae sudah saya wolak-walik... Pasti redaksinya kenak sogok lagi..."
"Jangan su udzon dulu to. Kalo nulis di media masa, memang kayak gitu. Ditolak, bukan berarti tulisan kita jelek. Tapi ada tulisan yang masih lebih bagus. Lebih layak muat. Lebih ap tu det. Gitu lo Jon. Lha terus sekarang tulisanmu dikemanakan?"
"Saya simpen tok."
"Mbok ya di tulis di web, atau medsos. Gitu lho Jon. Jangan medsos itu dipakek nulis status yang gak jelas. Gak onok bobote."
"Lak gratis pak Yai?"
"Yo ojok mikir gratise disik. Mikiro nyebar kebaikan dulu. Tulisan kan bagian dari dakwah bil qolam"
"Terus saya dapat uangnya dari mana, pak Yai?"
"Ya dari tani ini kan masih turah. Lha wong sawahmu sak enggon-enggon?"
"Iya sih, cuman gak sumbut dengan persiapan nulisnya..."
"Jon, jadi jago nulis iku gak instan. Bukan ujug-ujug. Bukan langsung hebat. Ada proses. Jadi jangan cepet mutung. Gak baik. Nulis di tempat gratis-gratis dulu. Tempat yang gak ada penolakan dulu. Biasanya ada komen. Diperbaiki. Dilatih terus. Setelah itu, baru meningkat. Ceramah juga gitu. Gak langsung menghadapi wong sak kabupaten. Ya bisa ngoplok, kringet sak jagung-jagung."
"Gitu pak Yai, ya?"
"Ya. Itung-itung dakwah. Sedekah tulisan. Cocok sama kebiasaanmu yang jadi petinju"
"Kok petinju, Pak Yai?"
"Iya, nggegem terus. Kayak petinju. Sampek-sampek duwitnya gak bisa jatuh..."
"Ah... bisa-bisa aja pak Yai."
Pembicaraan terhenti, seakan tidak mau melewatkan suara derkuku yang menyahut dari atas pohon  poh.
derkuku...ku.... derkuku....ku...
derkuku...ku...
Tiba-tiba ada santri muncul sambil bawa nampan isi sukun goreng dan teh panas. Seger...
"Matur suwun yo, rek.."
"Nggih sami-sami..."
"Ayo, Monggo disambi...
Belajar, ndengarkan ceramah, nonton tivi, ndenarkan radio, itu ibarat makan dan minum. Sedangkan menyampaikan ilmu seperti nulis, ceramah, mengaplikasikan dalam perilaku itu ibarat pipis atau ngendog. Jadi kalo ada orang yang punya ilmu, tapi gak disampaikan, ibarat orang makan minum tapi gak pipis, gak ngendog. Bisa jadi penyakit kan?"
"Kok bisa gitu pak Yai?"
"Ya iya lah. Ngelmu itu kan mbesuk ada pertanggungjawabannya. Lha kalo ditanya Gusti Alloh piye njawabe? Mosok arep mbujuk. Gusti Alloh kok dibujuki.
Kayak kamu, dari IAIN Sunan Ampel. Tanggung jawabmu menyampaikan/ mengaplikasikan yang kamu tahu. Gak harus bidang agama tok. Tapi yang lain juga...
Ayo... ayo... dimakan sukunnya. Enak kok Ini tadi barusan ngunduh, di belakang..."
Sidoarjo, 23 Mei 2015

Tidak ada komentar: