Kamis, 21 Mei 2015

Timbangan

Pagi itu pak Yai bertemu bakul rambutan langganannya di tuwang. Tuwang, adalah bahasa lokal (Sidoarjo) yang merujuk pada jalanan yang lokasinya yang jauh dari perkampungn. Sugeng, namanya. Setelah ngobrol kesana kemari, sampailah pada topik yang sensitif.
"Menurut saya pak Yai, jalanan rusak kayak gini, apalagi belum genap 2 tahun, kalo saya yang jadi Bupati Sidoarjo, bisa tak bedil, koruptornya."
"Tugas bupati itu bukan mbedil koruptor, Geng. Emang kenapa dengan koruptor?"
"Njengkelkan pak Yai. Ya kayak gini ini. Ini kan fasilitas umum. Harusnya pemerintah tahu, kalo fasilitas umum jangan dikorupsi"

"Berarti kalo bukan fasilitas umum, boleh?"
"Ya nggak gitu. Ya gak boleh juga.
Kalo menurut saya, itu namanya nyolong...
Oh ya, rambutan 2 kilonya Rp. 14rb."
"Kamu benci koruptor, Geng?"
"Benci sekali"
"Koruptor itu lo kawanmu."
"Maksud pak Yai?"
"Timbanganmu itu lho, gak pernah bener, Geng. Aku sesekali kalo nyampek rumah, tak timbang lagi. Bener gak?"
"Sumpah pak Yai, saya gak main gitu. Demi..."
"Demi apa? Demikian? Kamu mau pakek sumpah apa?
Sekarang aku mau tanya, kenapa biji timbangan itu selalu diatas timbangan?"
"Emmm.... ya gak pa pa Pak Yai. Sa... saya malas naruh ke tempatnya."
"Kamu berani, ngangkat biji timbangan itu. Biarkan timbangan itu apa adanya, tanpa apa-apa?"
"Kalo itu nanti saja... saya nyuwun pamit. Di wetan sawah lagi ditunggu pembeli, pak Yai."
"Sik... sik... sik... kesusu ae. Geng, tadi kamu benci koruptor. Alasannya karena nyolong. Lha ini kamu malah nyolong timbangan. Yang bener yang mana ini?"
"Ngapunten pak Yai, saya nyuwun pamit..."
"Sik to, belum selesai ini.
Kamu kerja yang bener. Mbakul yang jujur. Kalo kamu gak suka koruptor, benerin dulu timbanganmu. Kalo sudah, cobak belajar jaga mulut. Jangan gampang ngobral sumpah."
"Lha gimana pak Yai, kalo gak nyolong, gak bathi."
"Ngomong sing ati2. Biasakan yang jujur, Geng."
"Bener pak Yai"
"Nyumpah lagi...
Geng, yang namanya dagang itu kalo gak untung ya rugi. Kalo udah niat dagang, harus siap untung ya siap rugi. Lha kalo emang gak bathi atau untungnya dikit, gak usah diteruskan, jualannya. Tutup aja, ganti yang lain. Cuman kalo sampek direwangi mbujuk, nipu, sumpah palsu, hasilnya gak jadi berkah. Isok dadi penyakit. Andaikan kamu mbesuk dikaruniai sugih, gak bakal menentramkan."
"Kok pak Yai bilang gitu?"
"Iku wis rumus, Geng. Ngomong-ngomong kamu mau dibedil?"
"Wah jangan pak Yai..."
"Tadi, katamu koruptor mau dibedil?"
"Itu kan koruptor"
"Yo wis, kalo koruptor dibedil, lha kalo nyolong timbangan disunat maneh ya..."
"Waduh... waduh.... Ini kayaknya lebih berat pak Yai. Pun kulo tak nyuwun pamit mawon. Assalaamu'alaikum..."

Catatan:
Bakul bisa diidentikkan juga dengan sales atau marketing

Sidoarjo, 21 Mei 2015

Tidak ada komentar: