Dalam sebuah acara, Pak Yai bertemu dengan kawan lamanya, Mardiono, yang baru pensiun tahun lalu dari Pegadaian. Dari ceritanya, pesangon dari instansi tersebut cukup banyak. Saat itu Mardiono ditemani anak mBarepnya, Dondi.
Dondi, wirausahawan sukses dari kota Lamongan, yang mempunyai aset lebih dari 7 milyar.
Bertiga mereka bercengkrama. Cerita sekolah, keluarga, hingga merembet ke masalah Haji.
Menurut Mardiono dan Dondi, pemerintah telah melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa ditolerir, terkait dengan penyelenggaraan haji. Hingga banyak pihak jadi terlunta-lunta.
"Lha terus kamu berangkatnya kapan, Yon?"
Sambil menghela nafas panjang, Mardiono menjawab,
"Aku sebenarnya males, Yi. Gak kuat antrine. Mosok antri haji kok sampek 20 tahun. Iku kan gak masuk akal. Mending Umron ae. Enak, gak pakek lama. Sekarang ndaftar minggu depan atau maksimal 3 bulan mendatang, udah berangkat"
"Iya, betul pak Yai. Saya yang muda aja gak betah antrinya. Sekarang umur saya 33. Kalo ditambah antri 20 tahun, bisa-bisa saat saya haji, rambut kelek saya udah 2 warna."
"Hush... omonganmu, Don. Di dungakno moloekat gak hanya 2 warna, malah dadi 4 warna, repot kamu. Mosok bulu kelek kok fullcolor."
"Ha ha ha... "
Mereka tertawa bersama. Memang, pak Yai yang satu ini dikenal sebagai tokoh masyarakat yang tidak punya jarak dengan masyarakatnya. Sehingga tidak jarang, guyonan-guyonan lepas model embongan sering mewarnai dialognya.
"Menurutku, logikamu justru kebalik Don. Karena haji ini wajib buat kamu dan Mardiono, Bapakmu sing nggantheng dewe iku, harusnya mikirnya, 'wah mumpung masih umur 33, mendingan ndaftar sekarang, bisa berangkat umur 53. Jik relatif kuat ngibadah macem-macem. Daripada nunda daftar, akhire budal haji saat wis gak kuat opo-opo', gitu lho.
Kamu juga gitu, Yon. Mikire jangan kuwalik, 'umurku wis hampir 60. Antri 20 tahun. Jadi, saat berangkat haji nanti umur hampir 80 tahun. Berarti gak onok gunane'. Jangan gitu mikirnya. Jelas salah itu. Harusnya kamu mikirnya gini, mumpung umurku segini, tak daftar haji. Nah kalo saja umurku gak nutut, pasti aku sudah dicatat berangkat haji, sama Alloh. Kewajiban haji sudah gugur. Gitu...
Lha kalo semua serba diwalik, ya pasti kesimpulane elek, jelas kaco."
"Gak isok Yi. Ya pemerintah harus mbenahi infrastrukturnya dulu. Kalo sudah bagus, saya mau haji"
"Lha kalo kamu keburu matek, piye?"
"Ya aku tinggal bilang aja sama Alloh, 'Gusti, saya tidak difasilitasi dengan baik oleh pemerintah saya. Untuk itu siksalah mereka'. Gitu..."
"Difasilitasi opo Yon, lha wong kamu ndaftar aja belum kok ngomong difasilitasi segala. Sekarang aku tanya, kamu masuk kategori mampu gak?"
"Relatif Yi."
"Kamu Don, masuk kategori mampu apa nggak?"
"Saya, relatif pak Yai"
"Menurutku kalian sudah mampu. Sudah punya duwit 100 juta. Betul?"
"Kalo segitu ya ada lah"
"Yo wis, kalian sudah wajib ndaftar haji"
"Nanti dulu Yi..."
"Nanti dulu yang mana Yon? Apa kamu punya cara nggugurkan kewajiban haji, selain berangkat ke sana? Kamu juga Don. Ada?"
"Wah, ya gak ada. Cuman ngantrinya..."
"Gak ada urusan dengan antrian. Niat berhaji itu harus didekatkan dengan kenyataannya. Gak sekedar diucapkan, apalagi dibatin. Iya kalo sholat utowo puasa. Cukup dibatin, selesai. Haji kurang. Harus direalisasikan niatnya. Caranya? Mbayar DP haji. Kalo gak pernah mbayar DP haji, kapan dipanggil-e? Terus kapan budhal-e?"
"Katanya haji itu panggilan, Pak Yai"
"Iya panggilan memang. Manggilnya ya melalui duwitmu itu. Jangan harap Gusti Alloh bisik-bisik di kupingmu, 'ayo tak undang kamu ke Mekah'. Lha wong panggilan yang nyata-nyata kamu dengar aja gak pernah kamu reken (turuti)"
"Panggilan yang mana, Yi?"
"Adzan. Panggilan sholat kan?"
"O iya ya... he he he... rasanya kok kayak bukan panggilan ya. Lupa aku"
"Iyo wong atimu wis ketutup dunyo. Wajar"
"Lha terus piye iki?"
"Sekarang budhalo kalian berdua. Ndaftar Haji. Jangan lupa ke Bank Syariah. Jangan yang konvensional"
"Ato saya tak nemui teman yang di Depag aja, biar bisa cepat pak Yai. Gimana?"
"Wah, kalian wis peteng dhedhet ternyata. Gelap gulita. Masak urusan ibadah masih mau nyogok"
"Saya hanya minta tolong kok pak Yai"
"Minta tolong tok? Gratis? Gak mungkin. Udah pakek jalan normal wae, kenapa. Saat kalian mempercepat proses, sebenarnya kalian telah nyikut banyak antrin. Duso iku"
"Waduh repot mungsuh wong kenceng ngene iki"
"Ojok kakehan omong, ndang budhal kono"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar