Jumat, 26 Juni 2015

Lalu Lintas

Sore itu pak Yai jalan-jalan dengan Soni, dengan menggunakan sepeda
montor. Tujuannya seputar Alun-alun, GOR, hingga pasar krempyeng
Gading Fajar. Ketika sampai di daerah Taman Pinang, tiba-tiba Soni
mengarahkan motornya balik arah, melawan arus lalu lintas.
"Lho Son, te lapo (mau ngapain)?"
"Ke ATM pak Yai. Tadi kelupaan, pas lewat"
"Kok pakek jalur ini, gak lewat di seberang sana aja, yang searus"
"Wah, kejauhan pak Yai. Lagian gak ada Pulisi dan gak ada aturannya di Quran"



Setelah dari ATM, pak Yai dan Soni melanjutkan ke Gading Fajar.
Rupanya ada Circus. Puasa-puasa ada Circus. Tiba-tiba Soni
komat-kamit. Lirih terdengar bisikan istighfar.
"Onok opo, Son?"
"Itu pak Yai, Gambar Circusnya itu lho, wah bukak-bukakan aurot. Risih saya"
Tiba-tiba...
"Hei!!! Lihat jalan. Nglamun ae!!!"
Tukang becak, bergerak melawan arah. Dia merasa terganggu, saat Soni
melintas terlalu ke tepi jalan.
Soni diam saja, hanya menghindari becak ngawur yang baru saja hampir
menabraknya. Dongkol.
"Gitu itu lho pak Yai. Udah salah jalur, marah lagi. Gini ini kan
ngganggu. Dolim itu namanya."
Si Soni menggerutu. Menyalah-nyalahkan keadaan yang baru saja terjadi.
"Eh, Son. Ngapain marah?"
"Gak bener itu tadi pak Yai. Kalo nabrak pripun? Merugikan kan?!
Untung saya tadi masih bisa nahan emosi."
"Namanya sabar itu gak nggremeng (menggerutu). Kalo nggremeng gini,
namanya bukan sabar. Tapi mbendol ngguri. Kayak blangkon.
Ngomong-ngomong, kamu dulu lulusan apa?"
"Sipil pak Yai"
"Setahuku Son, di SD itu aturan lalu lintas sudah diajarkan. Bahkan dihafalkan."
"Lalu, maksud pak Yai?"
"Kamu tadi nglanggar rambu. Alasannya gak ada pulisi. Gak ada di
Quran. Sekarang, ada orang nglanggar, kamu marah-marah. Gimana kamu
ini"
"Beda pak Yai. Kalo tadi kan jalanan sepi."
"Tapi tetep nglanggar kan?"
"Ya iya sih"
"Nah, jujur saja aku malu. Isin kamu gonceng, kamu ajak nglanggar lalu
lintas. Dikira aku yang nyuruh"
"Kok gitu?"
"Lalu lintas itu memang gak ada di Quran. Hukum itu diciptakan untuk
memudahkan urusan manusia hidup di dunia. Cik podo slamet-e. Biar gak
saling ngganggu kalo di jalan. Sekarang, kamu kan kerja mbangun tower.
Kenapa kamu gak boleh mbangun tower BTS di dekat lapangan terbang?"
"Ya biar gak kecantol buntute pesawat pak Yai"
"Aturane sopo iku?"
"Aturan Menhub"
"Gak ada di Quran kan?"
"Iya"
"Harusnya kamu berhak melanggar juga. Toh belum pernah terjadi kan?
Tak kasih tahu ya Son, semua hukum di luar urusan fiqih, aqidah, dst,
pokoke urusan ndunyo yang tidak ada dalilnya, kita diperbolehkan mbuat
hukum sendiri. Conto: aturan penerbangan, pelayaran, mbangun gedung,
jasa keuangan, kerja di pabrik, dst, termasuk urusan lalu lintas. Jadi
biarpun gak ada Quran dan Haditsnya, tetep harus dipatuhi. Cik podo
selamete. Ngono lho. Dadi yo gak sak karepe dewe"
"Terus kita kemana ini pak Yai?"
"Sik...!!! Tak terusno, biar kamu ngerti. Jadi kalo sekarang dan
mbesuk-mbesuk kamu masih nglanggar lalu lintas lagi, berarti tak
anggep kamu dulu lulus SDnya, bijinya dikatrol. Gitu aja kok repot."
"Lho kok jadi gitu, pak Yai?"
"Ya iya lah. Ngisin-ngisini. Kayak orang gak beradab. Gak sumbut
dengan pendidikan teknik sipil, jenggot dan baju kokomu. Cukuren
maren, jenggotmu iku. Ato balik lagi, belajar di SD sana..."
"Inggih... Inggih... Pak Yai. Lain kali gak dibaleni."

Sidoarjo, Jumat 26 Juni 2015

Tidak ada komentar: