Pagi itu suasanya mbediding (dingin menyengat). Sudah 2 bulan ini hampir tiap hari seperti itu. Walaupun matahari sudah agak tinggi. Biasanya, situasi seperti ini bertepatan dengan bunga dari buah mangga, mengalami penyerbukan.
Penggemar sholat Dhuha di langgar Pak Yai yang biasanya bergas (bersemangat), nampak nyekukruk (meringkuk). Seperti burung emprit kehujanan. Kemarau yang dingin.
Seusai melaksanakan sholat Dhuha, pak Yai bergegas ke tepi sawah. Ada pesta miras, semalam.
"Gel, tangi. Wis awan..."
"Oh pak Yai... ada apa pak Yai?"
Sambil menggeliat. Wajah bogel terpapar matahari pagi. Gelagapan.
Penggemar sholat Dhuha di langgar Pak Yai yang biasanya bergas (bersemangat), nampak nyekukruk (meringkuk). Seperti burung emprit kehujanan. Kemarau yang dingin.
Seusai melaksanakan sholat Dhuha, pak Yai bergegas ke tepi sawah. Ada pesta miras, semalam.
"Gel, tangi. Wis awan..."
"Oh pak Yai... ada apa pak Yai?"
Sambil menggeliat. Wajah bogel terpapar matahari pagi. Gelagapan.
"Wis awan... ayo ndang mulih. Sebelum ketemon aparat. Ayo... mulih... mulih..."
"Masih ngantuk pak Yai... uaaahheemmmmm... Dar, rokok-e endi?"
Rupanya Bogel, Sudar, Maman, dan Juki masih mabuk berat. Minuman terakhir yang ditenggaknya Shubuh tadi, pengaruhnya masih belum hilang. Ini bisa dilihat dari sikapnya pada pak Yai yang terkesan "gak eroh wedi".
Sambil sempoyongan mencari rokok yang terserak di jerami, Bogel meracau
"Pak Yai, orang kayak saya ini masuk neraka ya. Kok saya gak takut..."
Berkata seperti itu, Bogel menyalakan rokoknya. Sisa korek jres yang masih menyala di lempar begitu saja, diatas bekas tumpahan minuman oplosan, diatas jerami. Tiba-tiba jerami terbakar. Merambat cepat. Walau tidak besar, tapi api sempat menjilat kakinya. Lidah api pun menyerang 4 kawan Bogel, yang masih tidur. Kontan saja, mereka seketika terbangun, misuh sambil berlari. Hampir semua nama hewan beserta kotorannya, diteriakkan. Sak kebun binatang. Komplit gak pakek koma. Pak Yai ikut mencolot, menghindari jilatan api yang datang tiba-tiba.
Rupanya api tersebut, tidak sekedar membangunkan orang tidur, tapi juga menyadarkan yang masih terlengaruh alkohol semalam. Padang byar.
"Sopo iki mau, yang berbuat?!!!" Teriak Juki. Matanya merah, tapi sudah sadar 100%. Melihat sekeliling hingga pandangan itu mampir ke Pak Yai dan Bogel.
Pandangan seketika melunak. Tapi begitu melihat Bogel masih memegang rokok, tahulah dia siapa yang berbuat.
Beramai-ramai mereka mengejar Bogel. Dikaplok, dan dijendul rame-rame.
"Wis... wis... wis... rek. Mari... mari... mari... jangan diteruskan...!!!" Teriak Pak Yai melindungi Bogel.
"Dia pak Yai... kurang ajar. Hampir mbakar kita-kita. Awas koen!!!"
"Udah... udah... kalian itu lho, puasa-puasa jik mendem ae. Mbok ya berhenti dulu. Mosok gak sabar nunggu 1 bulan ae. Dihormati Romadhonnya. Tuh di Selatan pasar sana ada obrak-an. Kalian sekarang pulang, sebelum yang ngobrak itu kemari."
Kawan-kawan Bogel menggerutu, sambil berlalu.
"Gel... gimana, tadi."
"Gosong pak Yai. Nih... lho..." Ujar Bogel sambil menunjukkan dengkulnya.
"Panas?"
"Buanget!"
"Wong kenak api dikit aja, kewan sak kebun binatang kamu sebut, lha apalagi dibakar di akhirat mbesuk?"
Akhirnya, si Bogel berlalu juga tanpa pamit
Madiun, 8 Juli 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar