Pagi itu hari Jumat. Tepat jam 8, Pak Yai mampir ke rumahnya Iman, Konsultan Keuangan yang rumahnya belakang ITS, Surabaya; setelah menyelesaikan beberapa urusan di Kejawan Putih Tambak. Belum sampai masuk uluk salam, Pak Yai disapa Edi, teman Iman yang kebetulan juga lewat.
Edi adalah lelaki ganteng, perlente, necis, dan punya bisnis pakan ikan dan udang, yang memasok ke pesisir Utara wilayah Besuki sampai Banyuwangi.
"Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuhu"
"Waalaikumus salaam Warohmatulloohi Wabarokaatuhu. Lho Edi, teko endi koen"
"Dari (sekolah) Lukman Hakim, pak Yai. Lha pak Yai ini dari mana, kok jauh-jauh dari Sidoarjo, pagi-pagi sudah sampek sini?"
"Oh.. tadi ada urusan di Kejawan, sebelum jam 3an. Terus subuhan, ngobrol sampek jam setengah delapan. Lha timbang pulang ke Darjo, sekalian aja mampir ke sini."
"Emang Cak Imannya ada?"
"Gak eroh, lha wong belum ndodok lawange. Kamu kok sendirian ae, kemana istri dan anakmu?"
"Walah pak Yai, saya ini masih GOLKAR (Golongan Kasep Rabi)."
He he ehe hehehhe... Hahahha... Haha...hahahhaaa. (tertawa bareng)
"Umurmu piro, kok masih nggolkar aja?"
"37 pak Yai. Lha pripun, gak cocok terus. Gak masuk kriteria. Sekalian saya nitip ke Pak Yai, barangkali ada santri atau siapa saja yang bersedia ndampingi saya."
"Jadi 37 tahun iku mek (hanya) digawe nguyuh (pipis/ kencing) tok? Dholim iku jenenge Ed..."
He he ehe hehehhe... Hahahha... Haha...hahahhaaa. (tertawa bareng)
"Pak Yai enten-enten mawon (ada-ada aja)"
"Emang kriteriamu kayak apa, Ed?"
"Harus cantik, sholihah, hapal Quran, pinter momong anak, pinter masak, taat suami, terus kaya. Ditambah lagi, kalo bisa sarjana"
"Ed, andai saja aku nemui wong wedok seperti yang kamu pinginkan, jelas iku tak pek dewe (tak ambil sendiri). Tak jadikan Bu Nyai kedua. Gak usah tak kasihkan kamu."
"Kok gitu, pak Yai?"
"Lha gimana, lha wong yang kamu mau itu terlalu ideal."
"Lah, namanya saja juga permintaan dan pengharapan pak Yai... Kan nggih wajar kalo ideal"
"Iya... Bener... Bener.... bener... Maksudku kamu benere dewe. Jadi orang itu yang masuk akal. Jangan sembarangan. Kamu minta dan nuntut jodo yang macem-macem, emang kamu sendiri kayak apa? Sholatmu jangkep gak? Ibadahmu, baca Quranmu, dsb. Jodo itu sekufu. Sederajat. Podo tingkat keimanane. Minimal mirip. Gak mungkin Gusti Alloh ngasih jodo ke orang, kalo terlalu berat sebelah. Njomplang. Kalolah itu sampek terjadi, paling-paling usia pernikahannya gak lama."
"Oooo..."
"Jadi, kamu kalo pingin jodo yang kayak gitu, benahi dulu ibadahmu. Ruhiahmu. Minimal sholat wajib jamaah 5 waktu. Bukannya adzan malah dienak-enakno rokokan nang warunge Sokran."
"Anu... Pak Yai.... Itu...."
"Anune sopo? Sholat sunahe diakehi (diperbanyak). Moco Quran bendino (setiap hari). Gitu, ojok dibiarkan ngglundung. Lagian ya Ed, kalo lah kamu berhasil ketemu cewek yang kayak gitu, dia itu lho belum tentu mau sama kamu."
"Waaduh... kenak cemes (smash) aku rek."
"Sekarang kamu mau kemana?"
"Mau ke (Jurusan) Kelautan ITS pak Yai, ngurus ligalisir. Ada rekanan yang butuh ijasah saya. Maklum, biarpun dulu waktu kuliah struktur pantai, teknik bangunan lepas pantai, e.. Alah, ternyata nyemplungnya di bisnis pakane iwak"
"Gak po po Ed, sing penting halal. Dan lebih penting maneh, kriteria jodomu iku harus diturunkan. Cik gak tambah suwe GOLKARMU iku"
"Nggih pak Yai"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar