Anas adalah pemuda pegawe kabupaten Sidoarjo, rumahnya pinggir sawah. Bapaknya blantik sapi, ibunya pedagang kecambah pasar Krembung. Dia adalah playboy desa yang suka gonta-ganti pasangan. Wajahnya tidak begitu ngganteng, tapi ngeyelnya, daya juangnya yang tinggi terhadap perempuan, yang menjadikan dia idola para gadis dan janda.
Dalam suatu kesempatan, setelah sholat idul fitri, dia berkeliling desa sambil memperkenalkan gendakan terbarunya.
Pagi itu dia berkunjung ke rumah pak Yai, yang rumahnya di pinggir sawah. Pak Yai tidak ada. Dicari. Ternyata beliau di belakang pesantren, di DPR (dibawah pohon rindang) bangku pinggir sawah. Sambil ngobrol dengan tamu-tamunya. Guyon bareng. Tempat itu memang menjadi tempat favorit pak Yai, menemui tamunya.
Dalam suatu kesempatan, setelah sholat idul fitri, dia berkeliling desa sambil memperkenalkan gendakan terbarunya.
Pagi itu dia berkunjung ke rumah pak Yai, yang rumahnya di pinggir sawah. Pak Yai tidak ada. Dicari. Ternyata beliau di belakang pesantren, di DPR (dibawah pohon rindang) bangku pinggir sawah. Sambil ngobrol dengan tamu-tamunya. Guyon bareng. Tempat itu memang menjadi tempat favorit pak Yai, menemui tamunya.
Diiringi suara derkuku dan prenjak liar, pembicaraan terasa lebih gayeng. Hanya terpaut beberapa meter, di bangku bawah pohon jambu monyet, Bu Nyai tampak ngguya-ngguyu, guyon dengan tamu-tamu wanitanya.
"Assalaamu'alaikum..." uluk salam Anas.
"Waalaikumus salaam warohmatulloohi wabarokaatuhu, ayo sini... sini..."
"Nggih pak Yai"
"Sopo iku, Nas?"
"Kenalaken, Anu pak Yai, niki bojo kulo"
"Bojo?! Kapan kawin?"
"Pacar pacar... pak Yai. Anak jaman sekarang kan ngatakan pacar itu bojo..."
"Itu kayak anaknya Kamidi Wonoayu. Bener?
"Betul pak Yai."
"Hmmm... kapan rencana dinikahi?"
"Waduh masih belum kepikir pak Yai. Masih penjajakan"
"Nas, itu anaknya orang lho ya. Jangan diewer-ewer. Nek wis sreg, segera nikah. Sebab nek makin lama, pasti makin tidak baik."
"Kok gitu, pak Yai"
"Yo jelas. Emang selama gendakan kamu ngapain aja. Lha wong goncengan aja udah nggak bener. Nggak baik. Iku wis duso, Nas.
Umurmu sekarang berapa?"
"27 tahun."
"Sik aku tanya. Kamu mbesuk, nek nikah, pingin punya anak berapa?"
"2"
"Nikah umur berapa?"
"30 tahun"
"Ok. Mbesuk anak ke-2 lulus kuliah, kamu pingin saat umur berapa?"
"Wah masih belum kepikir, pak Yai."
"Harus mbok pikir"
"Mmm... 50 tahun."
"Cobak kamu hitung. Anggap saja anakmu lulus kuliah umur 23 tahun. Lalu jarak kelahiran antar anak, anggap 3 tahun. Ditambah jarak pernikahan dengan anak pertama. Anggap 1 tahun. Totalnya 23+3+1=27 tahun. Kalo umurmu nikahan 30 tahun, dengan kondisi tadi, berarti anak ragilmu lulus kuliah saat umurmu 57 tahun. Betul?! Emang kamu mau, saat anakmu masih Esempe, kamu sudah pensiun dari tempat kerjamu. Sudah kakek-kakek?"
"Wah ya jangan sampek, pak Yai"
"Berarti targetmu gak masuk akal, kan?"
"Gitu ya, pak Yai?"
"Ya iya lah"
"Masak saya harus nikah tahun ini, pak Yai?"
"Sak karepmu. Sing jelas, prinsip yang harus dipegang, tambah lama kamu gendhak-an (pacaran), tambah nggak baik."
"Belum siap, pak Yai"
"Siap gak siap, umurmu jalan terus. Gak bisa dihentikan kecuali mati. Lagian kalo kamu sudah ada penghasilan, rasanya sudah nggak ada lagi alasan untuk nunda. Kecuali kamu memang wis gak lanang"
"Nggih pun, saya pikir-pikir lagi"
Cawas, Klaten, 18 Juli 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar